Sejarah Tarian Jawa-Jawa Tengah

Posted by osadmin - January 30, 2012 - Culture, News, Solo - No Comments
300px-Javanese_Dance_Ramayana_Shinta_2
Print Friendly

Dance is often called the “beksa”, the word “beksa” means “ambeg” and “one”, says it has the intent and understanding that people who would dance must be completely toward one goal, which is fused his soul with a disclosure form that melted motion.
The art of dance is a phrase that channeled / expressed through the motions of the rhythmic organ, containing exquisite propriety and harmony with gising as iringannya. Art of dance that is part cultural nation has actually been around since primitive times, Hindus until the introduction of Islam and then developed. Even the dance can not be released to the interests of traditional ceremonies as a means of offering. Javanese dance experience the glory that depart from the kingdom of Kadiri, Singosari, Majapahit especially in the reign of King Hayam Wuruk.
Surakarta is central to the art of dance. The main source found in Surakarta palace and the Temple Mangkunegaran. From both these places and then spread to the Surakarta area entirely and finally expanded again to include the area of ​​Central Java, continues to far outside of Central Java. Dance based on Kraton Surakarta had been there since the founding of Kraton Surakarta and has had experts who could be accounted for. These figures are still largely family or relatives of Sri Susuhunan palace is located. Dance based on Kraton Surakarta was then famous for its Dance Style Surakarta. Various kinds of dance:

Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Puppet-Purwa Mahabharata-Ramayana. Specifically in Mangkunegaran called Dance Langendriyan, who took Damarwulan story.

In its development there arose a new dance creations that have a place in the world of dance styles Surakarta. In addition to the standard dance palace (Hofdans), which includes high-grade dance, in the Central Java region there are also a variety of local dance. Such types of dance including traditional arts, such as:
- Dadung Ngawuk, Horse braid, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg,
Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, etc..

Guidelines for the traditional dance that most of the priority to the rhythmic motion and tempo are fixed so that the provisions of motion is not so determined once. So more free, more individual.

source: blogster.com

***

Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tarian Jawa mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Macam-macam tariannya :

Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera Damarwulan.

Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti :
— Dadung Ngawuk, Kuda Kepang, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg,
Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.

Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih bebas, lebih perseorangan.

sumber: blogster.com

Comments

Powered by Facebook Comments